Tampilkan postingan dengan label Sport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sport. Tampilkan semua postingan

21 April 2017

Kesan Pertama Sean Gelael Tunggangi Mobil Balap F1

View Article

JAKARTA – Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Sean Gelael pebalap F2 asal Indonesia yang tergabung dalam tim Pertamina Arden mencoba performa mobil Formula 1 milik tim Toro Rosso di sirkuit Bahrain, Selasa (18/4).

“Memang ada proses panjang yang harus dilakukan sebelum akhirnya terpilih sebagai pebalap penguji tim Toro Rosso,” tegas Sean saat ditemui di Jakarta.

Proses yang dilalui mulai dari melewati test dengan simulator beberapa kali, komunikasi dengan para engineer akhirnya ada kepercayaan dari tim Toro Rosso untuk memberikan kesempatan kepada Sean.

Saat ditanya apa yang dirasakan pada saat sudah duduk di dalam mobil F1, Sean mengatakan memang ada perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan mobil yang biasa dia gunakan balap.

“Mulai dari suara mesin yang memang lebih besar, banyaknya tombol kontrol di kemudi dan juga impresi dari kendaraan yang memiliki tenaga yang besar,” ungkap Sean putra dari Ricardo Gelael.

Lanjutnya, “kita kan tahu bahwa mengemudi di F1 menjadi cita-cita bagi seluruh pebalap yang ada di seluruh dunia dan tidak terkecuali adalah saya. Jadi memang pada saat duduk pertama kali di dalam mobil F1 sangat takjub dan merasakan hawa yang sangat berbeda dari mobil yang telah dirinya kendarai.”

13 April 2017

'Andorra Clan' Pasukan Anti-Rossi di Rapat MotoGP Argentina

View Article
Valentino Rossi dan Maverick Vinales (Yamaha Factory Racing) di MotoGP Argentina 2017 Sirkuit Termas de Rio Hondo.
BUENOS AIRES - Kontroversi Michelin mendatangkan ban tambahan (kode #70) ke MotoGP Argentina 2017 membuat mereka harus mengirim ribuan ban dalam tempo singkat dari Prancis, yang pastinya dibayar dengan mahal.

Tapi sayang, karena adanya pemogokan massal membuat ban pilihan keempat tersebut baru tiba di Sirkuit Termas de Rio Hondo pada Sabtu (8/4) dari semestinya datang pada Jumat (7/4).

Manuel Pecino dari Sport Rider yang ada selama akhir pekan MotoGP Argentina 2017 melanjutkan tulisannya.

Buntut dari baru tibanya #70 (ban depan pilihan keempat dengan permukaan lebih kaku) pada Sabtu (8/4), membuat para pembalap tidak memiliki waktu buat sekedar menjajalnya di lintasan kurang grip seperti Termas de Rio Hondo. Tapi itu adalah pernyataan yang diucapkan oleh beberapa pembalap seperti Valentino Rossi dalam sesi Sabtu, setelah pada Jumat dia mengatakan siap menjajal ban itu, tapi akhirnya menyayangkan mepetnya waktu di sesi Sabtu.

Namun rupanya ada penyebab lain yang tidak diungkapkan oleh Rossi dan pembalap lainnya soal mengapa #70 tidak dijajal di lintasan Termas de Rio Hondo. Itu karena komisi keselamatan (SC) pada Jumat sore, telah memutuskan untuk memveto ban tambahan keempat dari Michelin.

Usai melihat perkiraan cuaca hari berikutnya, dengan keterbatasan waktu untuk menjajalnya, lalu kebingungan yang bisa disebabkan oleh karena banyaknya kemungkinan kombinasi pemilihan ban (4 ban depan dan 3 ban belakang), para pembalap akhirnya memaksa komisi balap (RC) untuk menerima keputusan veto SC.

Jumlah pembalap yang hadir dalam pertemuan komisi keamanan berkisar 13 sampai 17 orang. Artinya, itu sudah lebih dari setengah grid (memenuhi kuorum jika dilakukan voting). Sayangnya, Rossi tidak hadir dalam pertemuan tersebut dengan alasan telat.

Pol Espargaro (KTM) disebut jadi salah satu pembalap yang dengan tegas menyatakan menolak penggunaan ban depan ekstra (#70) di MotoGP Argentina. Sedangkan Marc Marquez (Honda) lebih suka berada dalam posisi ‘no intervensi’.

Akhirnya, ban yang di atas kertas bisa membantu Rossi tadi, resmi ditolak. Namun dengan pertimbangan komisi balap, yang mengatakan bahwa #70 bisa digunakan seandainya mayoritas pembalap setuju untuk memakainya di lintasan.

Lantas bagaimana adanya tuduhan konspirasi Michelin mendukung Rossi buat meraih gelar juara dunianya yang ke-10 di balap GP pada musim 2017? Ya, karena di satu sisi orang-orang melihat keputusan Michelin untuk membawa #70 dianggap cocok dengan tuntutan Rossi yang terus mengeluh dengan ban depan berkompon lebih lembut.

Di sisi lain adalah mereka yang melihat komisi keselamatan sebagai dewan pasukan anti-Rossi, sebuah kelompok terorganisir yang salah satu pendukungnya berani menyebutnya sebagai ‘Andorra Clan’. Itu mengacu kepada sekelompok pembalap yang tinggal di kawasan pedesaan di Pegunungan Pyrenees. Sebuah kelompok yang mencakup Espargaro bersaudara, Bradley Smith, Hector Barbera, Maverick Vinales dan lain-lain.

Pada akhirnya kedua belah pihak memahami, bahwa posisi mereka tidak lebih dari konsekuensi dari situasi tertentu. Dan perpecahan itu tidak hanya terjadi antar pembalap, tetapi di seluruh paddock, dan bahkan di kalangan jurnalis peliput. Di mana ada momen ketika objektivitas bisa hilang karena seseorang, sebuah situasi yang aneh tanpa keraguan.

Pertanyaannya sekarang, siapakah yang benar? Jawabannya adalah tidak ada. Terlepas dari semua penjelasan tadi, memang patut dipertanyakan mengapa Michelin secara tiba-tiba memperkenalkan ban yang tidak diketahui sebelumnya dan tidak sah (karena 3 kompon ban sudah dialokasikan). Padahal sejak jumpa pers Kamis (6/4), masalah ini sudah dibicarakan.

Patut diketahui, jumlah ban yang tersedia tidak ada hubungannya dengan faktor keselamatan. Apakah empat kompon ban terlalu banyak untuk di uji pada hari Sabtu? Jawabannya adalah tidak ada kewajiban untuk menguji mereka semua.

Jika ada yang berpikir bahwa topik ban #70 berakhir di Termas akhir pekan lalu, mereka keliru. “Kami sedang mengevaluasi itu,” kata Nicola Goubert yang membuka kans ban tersebut di bawa ke MotoGP Amerika Serikat 2017 di Sirkuit Austin, Texas, 21-23 April mendatang, namun dengan permukaan dan kompon yang cocok dengan karakteristik trek.

“Kami mendengar semua ini setelah meminta dan kembali bertanya hal yang sama dalam 20 cara yang berbeda. Justru kurangnya kejelasan yang berakhir menghasilkan dan memicu polemik serta teori konspirasi.”

Mengingat ini telah terlihat dan didengar di Termas. Valentino Rossi bisa jadi akan segera memiliki akses ke ban ini yang bisa membantunya mendapatkan kepercayaan diri lagi saat masuk kurva tikungan, yang mana sekarang dia keluhkan akibat terjadinya getaran berlebih di bagian depan motor.

Tentu saja ada ketakutan bahwa Michelin nantinya akan memiliki pengaruh pada hasil balapan, catat, hanya pengaruh bukan mengontrol. Karena hari ini, ban diusulkan untuk membantu (sejumlah) pembalap yang ingin keluar dari krisis.

Besok-besok, bisa jadi ada pembalap lain yang sedang mengalami masalah dengan ban, lalu mungkin mengetuk pintu buat meminta bantuan Michelin buat mengatasinya. Skenario itulah yang membuat Loris Capirossi sebagai anggota komisi keselamatan tampak tegang dalam pertemuan intens dengan pembalap pada Jumat (7/4) malam di Argentina.

Polemik Ban Depan Tambahan di Argentina, Konspirasi Michelin - Rossi?

View Article
Valentino Rossi (kiri-Yamaha Factory Racing) sedang berdiskusi dengan petinggi Michelin Nicola Goubert di MotoGP Argentina 2017.
BUENOS AIRES - Pemasok ban resmi MotoGP 2017, Michelin, tiba-tiba membawa ban depan tambahan untuk akhir pekan MotoGP Argentina.

Tuduhan tak sedap pun langsung melayang ke pabrik ban dari Clermont Ferrand, Prancis tersebut telah mendukung Valentino Rossi buat meraih gelar juara dunia ke-10. Kontroversi ban keempat itu pun meledak dan jadi pertengkaran yang memicu perpecahan di paddock.

Ya, seperti dilaporkan Manuel Pecino, jurnalis Sport Rider yang memantau langsung jalannya akhir pekan MotoGP Argentina 2017. Sebuah keributan meledak di Sirkuit Termas de Rio Hondo ketika Michelin secara tidak terduga membawa ban depan tambahan untuk MotoGP Argentina 2017.

Langkah dari pemasok ban dari Prancis itu telah membagi pembalap, tim, dan bahkan pers menjadi dua faksi yang saling berbeda pandangan. Tetapi mereka bukan satu-satunya penjahat?

Apakah keputusan tak terduga Michelin menyertakan ban keempat di antara pilihan yang tersedia terasa menyedihkan? Apakah ini akibat kurangnya organisasi manajemen kejuaraan dalam menghadapi situasi tidak terduga?

Seperti dalam sejumlah berita sebelumnya, di mana ban depan jadi masalah buat Valentino Rossi selama pramusim, hingga MotoGP Qatar dan Argentina. Harusnya seperti di MotoGP, penyelesai solusi tidak akan datang dari pemasok tunggal, tetapi akan ditemukan dalam garasi tim.

Di awal kompetisi bebas, produsen individual seperti Michelin akan memproduksi ban dalam hitungan jam dengan permukaan lebih kaku yang akan mungkin memecahkan masalah yang dialami The Doctor.

Namun tiba-tiba Michelin membawa ban ke Argentina yang di atas kertas bakal memberi manfaat buat Rossi. Seperti diketahui, pembalap tim Yamaha Factory Racing itu bersama Andrea Iannone (Suzuki Ecstar) disebut salah satu bos Michelin sebagai dua pembalap yang paling tidak sreg dengan ban baru 2017 yang permukaannya lebih lembut.

Beberapa hari jelang akhir pekan MotoGP Argentina 2017, Michelin sudah mengumumkan mereka hanya menyediakan tiga pilihan kompon ban. Namun tiba-tiba, mereka bilang kepada para pembalap bahwa akan datang ban pilihan keempat.

Ini adalah ban ‘khusus’ yang dinamakan #70 Michelin. Rupanya ban baru ini sudah dipensiunkan Michelin pasca tes akhir musim 2016, setelah para pembalap terutama dari tim Yamaha, mengeluh bahwa itu menghasilkan getaran berlebih di bagian depan motor.

Dalam pandangan masalah ini, Michelin memutuskan untuk mempertahankan profil ban baru, tetapi kembali ke permukaan yang kurang kaku seperti yang digunakan sepanjang 2016 dengan kompon lebih lembut bernama #6. Namun dengan segera di tes pramusim 2017, Rossi melontarkan umpan balik yang tidak bagus dengan bagian depan YZR-M1 geberannya.


“Kami memutuskan untuk membawa kembali #70 setelah beberapa pembalap selain Valentino Rossi mengeluh tentang ban depan setelah GP Qatar,” ucap kepala staf Michelin, Nicola Goubert, dalam membela keputusan perusahaan untuk membawa ban depan tambahan ke GP Argentina yang ternyata baru tiba di Termas de Rio Hondo pada Sabtu (8/4) dari rencana datang Jumat (7/4).

Namun pernyataan ini bertentangan dengan apa yang dia katakan pada pertemuan tengah malam pada hari Minggu (26/3) di Qatar, ketika ia bilang bahwa hanya Rossi dan Iannone yang mengeluh tentang ban depan #6. Tapi di Sirkuit Termas de Rio Hondo, selain dua pembalap itu ada sekelompok pembalap yang ikutan mengeluh dengan #6, diantaranya termasuk Dani Pedrosa, Cal Crutchlow, Aleix Espargaro, hingga juara bertahan Marc Marquez.

“Karena kami tidak punya waktu untuk membuat ban #70 dengan senyawa untuk Termas de Rio Hondo, apa yang kami lakukan adalah menarik dari ban yang sudah kami buat sebelum ada keputusan untuk mengubah permukaannya,” lanjut Goubert.

“Kami tahu bahwa kami takkan dapat menjalankan mereka (#70) di sini (Termas), tetapi mereka akan membantu kami mengevaluasi ke arah mana untuk melanjutkan pengembangan ban kami.”

Dari pernyataan tersebut berarti #70 tidak digunakan untuk balapan Argentina, tetapi sebagai tes.

“Kecuali suhu pada Minggu pagi turun banyak,” imbuh Goubert lagi. Namun banyak pengamat, tim dan pembalap bilang, ban itu memiliki karakteristik yang tidak hanya seharusnya menguntungkan Rossi, tapi juga para pembalap yang sering melakukan hard braking macam Marquez, Crutchlow, atau Aleix.

12 April 2017

Rossi : Tak Penting Rivalitas Marquez - Vinales

View Article
Pembalap Movistar Yamaha Valentino Rossi
MotoGP 2017 - Ayahanda Valentino Rossi, Graziano, mengatakan memperhatikan rivalitas antara Maverick Vinales dan Marc Marquez bukan menjadi priorotas sang putra. Menurut Graziano, yang harus dilakukan Rossi saat ini adalah mengejar gap catatan waktu dengan sang rekan setim, Vinales.

"Valentino masih punya gap 0,2 detik atau 0,3 detik per lap dengan Vinales yang harus dipangkas. Lagi-lagi saya mesti mengatakan itu setelah balapan terakhir (MotoGP Argentina), tapi saya yakin Valentino telah memikirkan cara untuk memangkas gap pada balapan berikutnya," kata Graziano, Rabu (12/4/2017).

"Dia ingin memenangi titel pada tahun ini dengan segala cara dan ingin setidaknya berusaha hingga balapan terakhir," sambung dia.

Sejak tes pramusim 2017, Vinales sudah menunjukkan sinyal sebagai salah satu kandidat kuat juara dunia MotoGP 2017.

Dia kembali membuktikan diri dengan memenangi dua balapan perdana pada musim ini, masing-masing di MotoGP Qatar dan Argentina.

Banyak pihak meramalkan pacuan juara dunia MotoGP bakal mengerucut pada duel Vinales dengan juara MotoGP 2016, Marc Marquez.

Namun, pada dua balapan awal Baby Alien gagal naik podium. Setelah finis keempat di Qatar, dia malah crash di Argentina. Di sisi lain, Valentino Rossi malah tampil lebih konsisten dengan menempati posisi ketiga dan kedua di MotoGP Qatar dan Argentina.

Graziano mengatakan Rossi lebih baik mengabaikan skenario Marquez versus Vinales dan fokus pada pekerjaan rumah terbesarnya.

"Mereka (Vinales dan Marquez) berusaha sangat keras, jadi mungkin saja ada kesalahan. Namun, Valentino tak membutuhkannya (memperhatikan persaingan Vinales dan Marquez).

Yang dibutuhkan Valentino adalah bagaimana bisa secepat Vinales dan bagaimana mengambil risiko," urai Graziano.

"Valentino Rossi sudah bagus saat balapan, namun setelah motor belum 100 persen sehingga dia banyak kehilangan waktu saat latihan bebas. Yang jelas dia harus segera mengejar defisit 0,2 detik dari Vinales," tegas Graziano. 

Begini Kata George dan Jack Brown, Setelah Tak Lolos Jadi Skuad Timnas U-19

View Article
Begini reaksi George dan Jack Brown setelah dipastikan tidak lolos seleksi Timnas Indonesia U-19. (foto : bola.com)
Jakarta - Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, melalui PSSI telah mengumumkan 32 pemain yang lolos seleksi dan berhak melanjutkan tahapan lanjutan pemusatan latihan bersama Timnas U-19 pada Selasa (11/4/2017) malam.

Namun, para pemain yang mengikuti seleksi, seperti kakak-beradik George dan Jack Brown, sepertinya sudah lebih dulu tahu.

Pada Selasa (11/4/2017) malam, kakak-beradik yang berselisih 2,5 tahun ini sudah bertolak kembali ke Inggris dari Jakarta. Pelatih Indra Sjafri juga sudah mengadakan pertemuan dengan orangtua para pemain di Mes Senopati, Cijantung, sebelum memutuskan pemain pilihannya.

Ibunda George dan Jack, Indah Brown mengakui bila pelatih Indra Sjafri cenderung tidak mempertahankan kedua putranya. Bahkan ia memprediksi ke-14 pemain yang selama ini berlatih di luar negeri dan menjalani seleksi pada 6-10 April 2017, tidak terpilih untuk melanjutkan kiprah di pemusatan latihan Timnas Indonesia U-19 proyeksi Piala AFF U-19 dan kualifikasi Piala AFC U-19.

"Saat coach Indra menyampaikan bila fisik anak-anak dari Eropa kurang kuat, kami bisa lihat arahnya ke mana," kata Indah.

Prediksi itu tepat karena dari daftar 32 pemain yang yang lolos seleksi dan berhak melanjutkan pemusatan latihan bersama Timnas U-19, tidak ada satu pun nama dari 14 pemain yang berdomisili di luar negeri.

Meski dipastikan nama George dan Jack tidak ada di daftar 32 pemain pilihan pelatih Indra Sjafri, keduanya menurut sang ibunda, tidak terlalu kecewa dan sedih.

"Buat George dan Jack, dipanggil dan diberi kesempatan menjalani seleksi saja sudah bersyukur dan membahagiakan.

Apalagi keduanya bisa berkenalan dengan pemain-pemain top di Timnas U-19. Mereka mengakui teman-teman yang mengikuti seleksi hebat-hebat. Skill mereka luar biasa dan kuat secara fisik karena terbiasa latihan di udara yang lembab," beber Indah, menirukan pernyataan putranya.

Tidak hanya itu, George dan Jack juga memuji para pelatih di Tanah Air yang dinilai cukup displin, tegas, berpengalaman luas tetapi masih bisa bercanda dengan para pemain.

"George dan Jack sebenarnya berharap seleksi bisa diperpanjang lagi supaya mereka bisa beradaptasi dengan udara di Indonesia. Namun, sekalipun tidak diterima, mereka akan mencoba lagi tahun depan," lanjut Indah.

Saat ini usia George masih 17 tahun dan Jack Brown 15 tahun sehingga keduanya masih memiliki kesempatan menjalani seleksi Timnas Indonesia di lain waktu selama menjaga dan bahkan meningkatkan performa sehingga menarik pelatih timnas untuk menjajal kemampuan mereka.

Indah mengungkapkan bila George dan Jack juga mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan semua pencinta sepak bola Indonesia terhadap keduanya.

Keduanya tidak lupa meminta maaf karena tidak terpanggil lagi dalam seleksi dan meminta fans tetap mendukung mereka. "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Mereka akan berlatih lebih keras lagi," ucap sang ibunda.

11 April 2017

Livio Suppo Terkejut dengan Performa Cemerlang Valentino Rossi

View Article
Valentino Rossi raih podium ke dua di balapan MotoGP Argentina 2017
MotoGP 2017 - Bos Honda, Livio Suppo, mengaku tak menyangka Valentino Rossi masih tetap kompetitif pada MotoGP 2017. Suppo menyebut performa The Doctor jauh lebih mengejutkan ketimbang rekan satu timnya, Maverick Vinales.

The Doctor memang tampil mengejutkan pada dua seri awal MotoGP 2017 yang berlangsung di Qatar dan Argentina. Dia mematahkan prediksi banyak pihak terkait performanya di lintasan.

"Saya sama sekali tidak terkejut dengan hasil yang dicatatkan Vinales, justru saya lebih kagum dengan performa Rossi pada dua seri pembuka MotoGP 2017 ini," ujar Suppo dikutip dari Tuttomotoriweb, Selasa (11/4/2017).

"Saya melihat Rossi sangat kesulitan ketika tes pramusim. Bahkan ketika menjalani latihan bebas di Qatar dan Argentina, dia terlihat tak mampu menguasai motornya," sambungnya.

Pada dua seri pembuka MotoGP 2017, Rossi meunjukkan penampilan seolah usianya yang sudah menginjak 38 tahun tak menjadi penghalang baginya untuk tampil impresif di lintasan.

Sempat tercecer di posisi ke-10 pada MotoGP Qatar di Sirkuit Losail, Minggu (26/3/2017), rider asal Italia itu mengakhiri balapan dengan finis di posisi ketiga di belakang Vinales dan Andrea Dovizioso.

Kejutan kembali dibuat Rossi saat menjalani seri kedua MotoGP 2017 di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Senin (10/4/2017) dini hari WIB.

Memulai balapan dari posisi ketujuh karena rentetan hasil buruk saat latihan dan kualifikasi, juara dunia sembilan kali tersebut justru kembali naik podium kedua di belakang Vinales.

Berkat penampilan cemerlang di dua seri pembuka MotoGP 2017, Valentino Rossi kini menempati posisi kedua dengan raihan 36 poin.

The Doctor hanya terpaut 15 poin dari Vinales yang menjadi pemuncak klasemen.

10 April 2017

Setelah Marc Marquez Terjatuh, Maverick Vinales Yakin Menang

View Article
Maverick Vinales Sudah Yakin Menang Setelah Marc Marquez Terjatuh
Setelah melihat Marc Marquez mengalami crash, Maverick Vinales yakin bisa meraup banyak poin di MotoGP Argentina, Minggu (9/4/2017) atau Senin (10/4/2017) dini hari WIB.

MotoGP Argentina 2017 - Pebalap Movistar Yamaha, Maverick Vinales, mengakui balapan MotoGP Argentina di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Minggu (9/4/2017) atau Senin (10/4/2017) dini hari WIB, sebenarnya berjalan sulit. Namun, dia yakin bakal menang setelah melihat Marc Marquez terjatuh.

Marquez terjatuh pada lap ketiga saat hendak melahap tikungan kedua. Pebalap Repsol Honda itu tergelincir dan masuk ke gravel. Dia tak bisa melanjutkan balapan karena motornya mengalami kerusakan yang cukup parah.

Vinales memanfaatkan dengan baik insiden yang menimpa kompatriotnya itu. Juara MotoGP Qatar 2017 itu kemudian memimpin balapan hingga garis finis. Dia menyelesaikan balapan dengan catatan waktu 41 menit 45,060 detik.

"Ini balapan yang sulit. Saya memulai dengan cukup bagus tapi Marc Marquez berusaha sangat keras, jadi saya mencoba untuk menemukan kecepatan saya di tiap lapnya," ungkap Vinales setelah balapan.

"Saya kemudian melihat Marquez mengalami kecelakaan dan saya berpikir bisa membawa banyak poin ke rumah. Ini sangat penting bisa membawa poin maksimal hari ini."

"Sangat senang tim bekerja dengan baik dan motor tampil dengan luar biasa hari ini. Tim telah melakukan pekerjaan yang bagus," tambah pebalap berjuluk Top Gun tersebut.

Dengan hasil ini, Maverick Vinales memuncaki klasemen sementara MotoGP 2017 dengan 50 poin. Dia unggul 14 poin atas Valentino Rossi yang menempati posisi kedua.

Crash saat Balapan MotoGP Argentina, Marc Marquez Sebut Aneh

View Article
Marc Marquez Sebut Crash saat Balapan MotoGP Argentina Aneh
Marc Marquez mengaku insiden yang menimpanya pada balapan MotoGP Argentina, Minggu (9/4/2017) atau Senin (10/4/2017) dini hari WIB, terasa aneh

MotoGP Argentina 2017 - Pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, mengaku telah melakukan kesalahan besar saat terjatuh pada balapan MotoGP Argentina di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Minggu (9/4/2017) atau Senin (10/4/2017) dini hari WIB. Namun, dia menyebut insiden itu terasa aneh.

The Baby Alien mengalami crash pada lap ketiga di tikungan kedua Sirkuit Termas de Rio Hondo. Padahal saat itu pebalap asal Spanyol ini tengah memimpin balapan.

"Saya membuat kesalahan besar. Bahkan saya tak melampaui batas sejujurnya. Ini kecelakaan yang aneh, mengingat saya dalam posisi tegak dengan motor, hanya miring sekitar 25 derajat," ungkap Marquez seperti dikutip GPOne, setelah balapan.

"Saya benar-benar minta maaf, karena merasa sangat kompetitif dari awal, karena kami telah melakukan perubahaan saat pemanasan yang membuat saya lebih percaya diri dalam hal kecepatan," tambahnya.

Marquez mengaku sangat menyesal dengan kejadian ini. Mengalami kecelakaan pada awal musim disebutnya sebagai kerugian besar.

"Sayang sekali, karena sulit menebus kecelakaan seperti ini pada awal musim. Saya sangat butuh mencetak poin hari ini. Saya benar-benar belajar dari kesalahan ini untuk balapan berikutnya," tuturnya. 

Marc Marquez masih punya cukup banyak waktu untuk mengevaluasi apa yang terjadi di Argentina. Balapan MotoGP 2017 berikutnya baru akan berlangsung pada 23 April di Circuit of The Americas, Amerika Serikat.